Depresi setelah Persalinan
Diposting oleh wawan sp di 08.23Satu dari delapan ibu yang melahirkan pertama kali akan mengalami depresi setelah persalinan dan pada mereka yang telah mengalami hal ini sebelumnya akan mempunyai risiko satu dari empat persalinan untuk mengalami hal yang serupa. Gangguan ini sebelumnya tidaklah umum terjadi pada masyarakat yang memiliki konsep budaya timur, namun belakangan hal ini makin banyak dialami ibu-ibu yang melahirkan dan angka kejadiannya pun mendekati apa yang terjadi di barat.
SELAMA masa postpartum, sekitar 85 persen perempuan akan mengalami berbagai macam gangguan perasaan. Gangguan yang ditimbulkan antara lain postpartum blues, depresi pasca-persalinan hingga psikotik. Kebanyakan dari mereka merasakan gejala yang terjadi tidak terlalu mengganggu atau ringan, namun sebagian lagi merasakan hal tersebut sebagai suatu gangguan yang menetap. Depresi sering merupakan gejala yang kurang mendapat perhatian oleh penderita maupun oleh mereka yang merawatnya. Gangguan ini memberikan dampak yang sangat signifikan baik bagi si ibu maupun pada perkembangan dan perilaku anak nantinya. Untuk itu pengenalan dan penanganan gangguan secara dini adalah sangat esensial.
Etiologi
Gangguan depresi pasca-persalinan baru mendapatkan perhatian pada tahun 1960-an setelah B. Pitt mendiskripsikan adanya suatu bentuk depresi atipikal yang mempengaruhi ibu setelah anak lahir. Pasca-persalinan sendiri merupakan periode dimana terjadi perubahan fisiologis dan psikososial yang signifikan. Kompleks dan banyaknya faktor yang berperanan dalam perubahan ini menyebabkan sulitnya mengidentifikasi faktor risiko dan kemungkinan orang yang akan mengalami gangguan tersebut.
Secara demografi, sangat sedikit bukti yang dapat menunjukkan faktor demografi tertentu mempunyai peranan meningkatkan risiko terjadinya gangguan ini. Namun demikian dikatakan bahwa ibu yang berusia remaja mempunyai kecenderungan lebih tinggi (26%) mengalami gangguan. Adanya riwayat penyakit psikiatri sebelumnya merupakan suatu risiko yang signifikan untuk terjadi serangan ulangan, dimana untuk mereka yang mengalami gangguan depresi pasca-persalinan akan mengalami risiko hingga 50% pada proses persalinan berikutnya.
Banyak ahli kini memandang bahwa faktor hormonal sangat berperanan dalam menimbulkan gangguan ini. Hal ini dipandang berperanan karena masa pasca-persalinan memiliki karakteristik terjadinya perubahan hormonal yang sangat cepat. Dalam 48 jam pertama setelah melahirkan, hormon estrogen dan progesteron turun secara dramatis, demikian juga dengan konsentrasi kortisol yang turun setelah proses melahirkan. Selain itu, hormon tiroid juga mengalami penurunan dimana konsentrasi tiroksin yang tinggi pada masa kehamilan akan mengalami penurunan selama pasca-persalinan. Sementara itu, faktor psikososial dipandang memainkan peran penting, dimana terlihat bahwa hidup yang penuh beban selama masa mengandung atau pada saat akan melahirkan meningkatkan terjadinya gangguan depresi pasca-persalinan. Satu hal yang sangat konsisten adalah pada mereka yang melaporkan perkawinan yang tidak memuaskan atau dukungan sosial yang tidak memadai mengalami gangguan ini lebih banyak. Hal ini pulalah yang dipandang sebagai faktor yang menyebabkan mereka yang memiliki dukungan keluarga dan lingkungan yang memadai tidak akan mengalami gangguan ini, seperti yang terjadi pada masyarakat Bali, melalui upacara, pertunjukan dan dukungan kelompok-kelompok di masyarakat. Untuk itu diharapkan selama sembilan bulan mengandung merupakan proses bertapa baik bagi suami maupun istri sehingga dalam proses kelahiran nantinya suasana tenang dan penuh pengharapan akan mencegah terjadinya lonjakan perubahan baik fisiologis maupun psikososial.
Manifestasi Klinik
Penegakan diagnosa dinilai dalam waktu 4 minggu pertama setelah proses kelahiran, namun ada juga yang menilai bahwa gangguan pasca-persalinan ini merupakan episode yang terjadi dalam satu tahun pertama setelah anak lahir. Namun demikian, banyak dari mereka yang tidak terdiagnosa karena kurangnya perhatian atau terabaikan baik oleh penderita maupun oleh mereka yang merawatnya. Gangguan depresi yang tidak tertangani akan memberikan konstribusi pada gangguan yang sifatnya kronis dan berulang pada si ibu. Selain itu juga memberikan dampak pada fungsi kognisi, emosi dan perkembangan sosial pada anak.
Gangguan depresi pasca-persalinan merupakan hal yang umum terjadi selama masa pasca-persalinan dengan angka paparan 10%-15%. Angka kejadian ini hampir sama pada mereka yang tidak mengalami proses persalinan. Demikian juga dengan tanda dan gejala yang ditimbulkan memiliki kesamaan dengan apa yang dialami pada masa yang lain. Perasaan tidak nyaman atau menyenangkan (dysphoria), iritabel, kehilangan minat akan hal-hal yang menyenangkan (anhedonia), insomnia dan kelelahan merupakan keluhan yang umumnya dilaporkan selain keluhan somatik lainnya.
Sikap ambivalensi dan perasaan negatif terhadap bayi juga sering dilaporkan dan biasanya mereka juga sering mengekspresikan keraguan atau ketidakmampuan mereka dalam mengurus anaknya. Ide-ide bunuh diri juga sering dilaporkan meskipun angka kejadian bunuh diri pada mereka yang mengalami gangguan ini tercatat sangat rendah. Gejala kecemasan menyeluruh, gangguan panik, dan gangguan obsesif-kompulsif sering didapatkan pada mereka dengan gangguan depresi pasca-persalinan.
Penanganan
Durasi dari masa pasca-persalinan adalah bervariasi pada setiap orang, biasanya tidak lebih dari 3 bulan. Meskipun hal ini merupakan hal yang umum terjadi pada setiap orang, namun beberapa penelitian menunjukkan adanya efikasi dari penanganan dengan nonfarmakologis dan secara farmakologis.
Pada penanganan dengan obat-obatan yang perlu mendapatkan perhatian adalah respons penderita akan obat yang diberikan dan efek samping yang ditimbulkan. Walaupun pada dasarnya semua antidepresan pada dosis standar bersifat efektif dan memiliki toleransi yang baik. Hal lainnya yang perlu mendapatkan perhatian adalah pemberian obat ini juga akan disekresi melalui ASI. Golongan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) merupakan pilihan pertama karena sifat anxiolitik, non sedasi dan toleransinya yang baik. Selain itu, terapi hormonal juga menjadi suatu bentuk terapi yang dipandang dapat membantu meskipun masih tidak jelas siapa yang mempunyai respons yang baik pada terapi hormonal ini. Sehingga pada kasus yang sedang dan berat, pilihan pertama untuk terapi secara farmakologis adalah antidepresan. Untuk terapi nonfarmakologis yang banyak digunakan adalah terapi interpersonal dan cognitive-behaviour therapy. Menurut Suryani (1998), penanganan yang terbaik adalah perlu dilakukannya suatu program holistik dengan pendekatan bio-psiko-spirit-sosiobudaya. Program ini melibatkan janin, ibu dan bapak dari janin, lingkungan sekitar, serta dokter dan bidan yang mengasuhnya sehingga kebutuhan dasar janin dalam kandungan seperti kebutuhan dicintai, diharapkan, rasa aman dan tenang dapat terpenuhi. Selain itu meditasi dan relaksasi adalah salah satu program yang dapat diberikan pada orang tua yang ingin dan sedang mempunyai janin dalam kandungan dengan tujuan melatih orangtua agar mampu mengontrol emosinya, mengadakan komunikasi spiritual dengan janin dalam kandungan, dan mengantarkan ibu selalu sehat.
Latihan relaksasi khususnya, menurut Suryani, bertujuan selain menghilangkan rasa capek juga melatih ibu yang mengandung dapat tidur nyenyak. Dalam keadaan tidur nyenyak, akan tercapai keadaan homeostatis sehingga sistem hormonal dan daya tahan tubuh dapat mempengaruhi keadaan janin dan secara otomatis proses pengobatan oleh diri sendiri berfungsi. Sehingga dalam proses kelahiran nantinya tidak akan menimbulkan lonjakan perubahan sistem hormonal yang dapat menimbulkan terjadinya gangguan depresi pasca-trauma.
TATA CARA PEMOTONGAN TALI PUSAT
Diposting oleh wawan sp di 13.14langkah ke 26 sampai dengan 28 berikut ini :
a. Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali tali
pusat.
b. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari umbilikus bayi.
Melakukan urutan pada tali pusat kearah ibu dan memasang klem kedua 2
cm dari klem pertama.
c. Memegang tali pusat diantara 2 klem menggunakan tangan kiri, dengan
perlindungan jari-jari tangan kiri, memotong tali pusat diantara kedua klem.
(JNPKR, Depkes RI, 2004).
Gambar 2.3. Pemotongan Tali Pusat
Sisa potongan tali pusat pada bayi inilah yang harus dirawat, karena jika
tidak dirawat maka dapat menyebabkan terjadinya infeksi.
Fisiologi Lepasnya Tali Pusat
Perawatan tali pusat secara intensif diperkenalkan pada tahun 1950an
sampai dengan tahun 1960an dimana pada saat itu angka infeksi pada proses
kebidanan sangat tinggi. Akan tetapi pada beberapa Negara berkembang masih
sering dijumpai terjadinya infeksi tali pusat walaupun antiseptic jenis baru telah
diperkenalkan. Selain infeksi, pendarahan pada tali pusat juga dapat berakibat
fatal. Akan tetapi pendarahan dapat dicegah dengan melakukan penjepitan tali
pusat dengan kuat dan pencegahan infeksi.
Peralatan yang digunakan dalam pemotongan tali pusat juga sangat
berpengaruh dalam timbulnya penyulit pada tali pusat. Saat dipotong tali pusat
terlepas dari suply darah dari ibu. Tali pusat yang menempet pada pusat bayi lama
kelamaan akan kering dan terlepas. Pengeringan dan pemisahan tali pusat sangat
dipengaruhi oleh aliran udara yang mengenainya. Jaringan pada sisa tali pusat
dapat dijadikan tempat koloni oleh bakteri terutama jika dibiarkan lembab dan
kotor. Sisa potongan tali pubaru lahir. Kondisi ini dapat dicegah dengan membiarkan tali pusat kering dan
bersih.
Tali pusat dijadikan tempat koloni bakteri yang berasal dari lingkungan
sekitar. Pada bayi yang ditrawat di rumah sakit bakteri S aureus adalah bakteri
yang sering dijumpai yang berasal dari sentuhan perawat bayi yang tidak steril.
Pengetahuan tentang faktor yang menyebabkan terjadinya kolonisasi bakteri pada
tali pusat sampai saat ini belum diketahui pasti. Selain S aerus, bakteri E colli dan
B streptococci juga sering dijumpai berkoloni pada tali pusat.
Pemisahan yang terjadi antara pusat dan tali pusat dapat disebabkan oleh
keringnya tali pusat atau diakibatkan oleh terjadinya inflamasi karena terjadi
infeksi bakteri. Pada proses pemisahan secara normal jaringan yang tertinggal
sangat sedikit, sedangkan pemisahan yang diakibatkan oleh infeksi masih
menyisakan jaringan dalam jumlah banyak yang disertai dengan timbulnya
abdomen pada kulit (BCRCP, 2001).
Perawatan Tali Pusat
Perawatan adalah proses perbuatan, cara merawat, pemeliharaan,
penyelenggaraan(Kamisa, 1997).
Tali pusat atau umbilical cord adalah saluran kehidupan bagi janin selama
dalam kandungan. Dikatakan saluran kehidupan karena saluran inilah yang
selama 9 bulan 10 hari menyuplai zat-zat gizi dan oksigen ke janin. Tetapi begitu
bayi lahir, saluran ini sudah tak diperlukan lagi sehingga harus dipotong dan
diikat atau dijepit.
Perawatan tali pusat tersebut sebenarnya juga sederhana. Yang penting,
pastikan tali pusat dan area sekelilingnya selalu bersih dan kering. Selalu cuci
tangan dengan menggunakan air bersih dan sabun sebelum membersihkan tali
pusat. Selama ini, standar perawatan tali pusat yang diajarkan oleh tenaga medis
kepada orangtua baru adalah membersihkan atau membasuh pangkal tali pusat
dengan alkohol. sat menjadi sebab utama terjadinya infeksi pada bayiSelama belum tali pusatnya puput, sebaiknya bayi tidak dimandikan
dengan cara dicelupkan ke dalam air. Cukup dilap saja dengan air hangat.
Alasannya, untuk menjaga tali pusat tetap kering. Jangan khawatir, bayi Anda
tetap wangi meskipun hanya dilap saja selama seminggu. Bagian yang harus
selalu dibersihkan adalah pangkal tali pusat, bukan atasnya. Untuk membersihkan
pangkal ini, Anda harus sedikit mengangkat (bukan menarik) tali pusat. Tenang
saja, bayi Anda tidak akan merasa sakit. Sisa air atau alkohol yang menempel
pada tali pusat dapat dikeringkan dengan menggunakan kain kasa steril atau
kapas. Setelah itu kering anginkan tali pusat. Anda dapat mengipas dengan
tangan atau meniup-niupnya untuk mempercepat pengeringan. Tali pusat harus
dibersihkan sedikitnya dua kali dalam sehari.
Tali pusat juga tidak boleh ditutup rapat dengan apapun, karena akan
membuatnya menjadi lembab. Selain memperlambat puputnya tali pusat, juga
menimbulkan resiko infeksi. Kalaupun terpaksa ditutup (mungkin Anda ’ngeri’
melihat penampakannya), tutup atau ikat dengan longgar pada bagian atas tali
pusat dengan kain kasa steril. Pastikan bagian pangkal tali pusat dapat terkena
udara dengan leluasa. Bila bayi Anda menggunakan popok sekali pakai, pilihlahyang memang khusus untuk bayi baru lahir (yang ada lekukan di bagian depan).
Dan jangan kenakan celana atau jump-suit pada bayi Anda. Sampai tali pusatnya
puput, kenakan saja popok dan baju atasan. Bila bayi Anda menggunakan popok
kain, jangan masukkan baju atasannya ke dalam popok. Intinya adalah
membiarkan tali pusat terkena udara agar cepat mengering dan lepas (Paisal,
2007).
Perawatan Tali Pusat Kering
Perawatan tali pusat kering adalah Tali pusat dibersihkan dan dirawat
serta dibalut kassa steril , tali pusat dijaga agar bersih dan kering tidak
terjadi infeksi sampai tali pusat kering dan lepas (Depkes RI, 1996 ).
Cara perawatan tali pusat kering adalah :
1) Siapkan alat-alat
2) Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat tali pusat
3) Tali pusat dibersihkan dengan kain kasa.
4) Setelah bersih, tali pusat dibungkus dengan kain kasa steril kering.
5) Setelah tali pusat terlepas / puput, pusat tetap diberi kasa steril.
Cara perawatan tali pusat kering adalah dengan membungkus tali pusat
dengan kasa dan mengkondisikan tali pusat tetap kering. Jika tali pusat
berbau diberi gentian violet (Marjono, 2007 ).
Tali Pusat Basah Perawatan
Tujuan dari perawatan tali pusat adalah untuk mencegah infeksi dan
meningkatkan pemisahan tali pusat dari perut. Dalam upaya untuk
mencegah infeksi dan mempercepat pemisahan, banyak zat yang berbeda
dan kebiasaan-kebiuasaan yang telah digunakan untuk perawatan tali pusat
ini. Hanya dari beberapa penggunaannya yang telah dipelajari dengan baik. Zat-zat seperti triple dye, alkohol dan larutan chlorhexidine sepintas
lalu dianggap mencegah infeksi namun ditemukan belum bekerja dengan
baik. Selain itu, ketika para ibu merawat bayi mereka di dalam kamar
mereka daripada di dalam ruang perawatan, tingkat infeksi tali pusat
terendah terjadi (Hasselquist, 2006:53). Cara perawatan tali pusat basah adalah :
1) Siapkan alat-alat
2) Selalu cuci tangan Anda sampai bersih sebelum mulai melakukan
perawatan tali pusat.
3) Kemudian, bersihkan tali pusat dengan alkohol.
4) Tutupi dengan kasa steril yang diberi alkohol dan menggantinya setiap
kali usai mandi, berkeringat, terkena kotor, dan basah.
5) Segera larikan ke dokter jika mencium bau tidak sedap dari tali pusat
bayi yang belum lepas.
(Solahuddin, 2006).
Lama waktu Terlepasnya Tali Pusat
Tali pusat orok berwarna kebiru-biruan dan panjang sekitar 2,5 – 5 cm
segera setelah dipotong. Penjepit tali tali pusat plastik digunakan pada tali pusat
untuk menghentikan perdarahan. Penjepit tali pusat ini dibuang ketka tali pusat
sudah kering, biasanya sebelum ke luar dari rumah sakit atau dalam waktu dua
puluh empat jam hingga empat puluh delapan jam setelah lahir. Sisa tali pusat
yang masih menempel di perut bayi (umbilical stump), akan mengering dan
biasanya akan terlepas sendiri dalam waktu 1-3 minggu, meskipun ada juga yang
baru lepas setelah 4 minggu. Umumnya orangtua baru agak takut-takut
menangani bayi baru lahirnya, karena keberadaan si umbilical stump ini. Meski
penampakannya sedikit ’mengkhawatirkan’, tetapi kenyataannya bayi Anda tidak
merasa sakit atau terganggu karenanya (Hasselquist, 2006:53).
Tali pusat sebaiknya dibiarkan lepas dengan sendirinya. Jangan
memegang-megang atau bahkan menariknya. Bila tali pusat belum juga puput
setelah 4 minggu, atau adanya tanda-tanda infeksi, seperti; pangkal tali pusat dan
daerah sekitarnya berwarna merah, keluar cairan yang berbau, ada darah yang
keluar terus- menerus, dan/atau bayi demam tanpa sebab yang jelas maka kondisi
tersebut menandakan munculnya penyulit pada neonatus yang disebabkan oleh tali pusat (Paisal, 2007).
Lama penyembuhan tali pusat dikatakan cepat jika kurang dari 5 hari,
normal jika antara 5 sampai dengan 7 hari, dan lambat jika lebih dari 7 hari
(Paisal, 2007).
Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Lamanya Lepasnya Tali Pusat
Lepasnya tali pusat dipengaruhi oleh beberapa ha diantaranya adalah :
1. Timbulnya infeksi pada tali pusat, karena tindakan atau perawatan yang
tidak memenuhi syarat kebersihan, misalnya pemotongan tali pusat
dengan bambu/gunting yang tidak steril, atau setelah dipotong tali pusat
dibubuhi abu, tanah, minyak daun-daunan, kopi dan sebagainya (Ellen,
2006).
2. Cara perawatan Tali pusat, penelitian menunjukkan bahwa tali pusat yang
dibersihkan dengan air dan sabun cenderung lebih cepat puput (lepas)
daripada tali pusat yang dibersihkan dengan alkohol (Paisal, 2007).
3. Kelembaban tali pusat, tali pusat juga tidak boleh ditutup rapat dengan
apapun, karena akan membuatnya menjadi lembab. Selain memperlambat
puputnya tali pusat, juga menimbulkan resiko infeksi (Paisal, 2007).
4. Kondisi sanitasi lingkungan sekitar neonatus, Spora C. tetani yang masuk
melalui luka tali pusat, karena tindakan atau perawatan yang tidak
memenuhi syarat kebersihan.
FISIOLOGI DAN MANAGEMEN PERSALINAN
Diposting oleh wawan sp di 09.08PENDAHULUAN
Persalinan adalah suatu proses dimana fetus dan plasenta keluar dari uterus, ditandai dengan peningkatan aktifitas myometrium ( frekuensi dan intensitas kontraksi) yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks serta keluarnya lendir darah ("show") dari vagina.1,2,3,4 Lebih dari 80% proses persalinan berjalan normal,15-20% terjadi komplikasi persalinan. UNICEF dan WHO menyatakan bahwa hanya 5% -10% saja yang membutuhkan seksio sesarea.5
Dari data WHO 1999, Terdapat 180-200 juta kehamilan setiap tahunnya dan 585 ribu kematian wanita hamil berkaitan dengan komplikasi. 24.8% terjadi perdarahan,14.9 % infeksi, 12,9 % eklampsia, 6,9 % distosia saat persalinan, 112,9 % aborsi yang tidak aman, 27 % berkaitan dengan sebab lain. Sedangkan sebab utama kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, Infeksi, eklampsia, partus lama dan komplikasi abortus. Perdarahan adalah sebab utama yang sebagian besar disebabkan perdarahan pasca salin. Hal ini menunjukan adanya managemen persalinan kala III yang kurang adekuat.6
Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997 mengungkapkan bahwa partus lama merupakan penyebab kesakitan maternal dan perinatal utama disusul oleh perdarahan, panas tinggi, dan eklampsi. Pola morbiditas maternal menggambarkan pentingnya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terampil, karena sebagian besar komplikasi terjadi pada saat sekitar persalianan. 24,6 % persalianan dengan komplikasi harus ditolong dengan seksio sesarea, sebagian besar dari kasus ini disebabkan oleh partus lama dan perdarahan.6
Pada konfrensi internasional tahun 1999 di Kairo disepakati 80 % dari persalianan akan ditangani oleh tenaga terlatih pada tahun 2005. Hal ini pada negara-negara Asia akan dicapai pada tahun 2015. Di Indonesia pada tahun 1997 hanya 36% saja yang parsalinan ditangani oleh tenaga terlatih, didapat peningkatan yaitu pada tahun 1999 menjadi 56 %.5
Pada makalah ini akan dibahas mengenai fisiologi persalinan yang mungkin dapat membantu dalam upaya memahami proses persalinan agar menghindari intervensi yang tidak tepat dan komplikai yang tidak perlu terjadi, karena jelas bahwa kehadiran tenaga terlatih saat persalinan akan mengurangi kemungkinan komplikasi dan kejadian fatal.
PERUBAHAN BIOKIMIA PADA WANITA HAMIL SAAT MEMASUKI PROSES PERSALINAN 4
Pada mulai terjadinya proses persalinan terdapat perubahan-perubahan morfologik dan biokimia tersendiri didalam jaringan uterus yang mempersiapkan kontraksi yang kuat dan terkoordinasi. Diantara perubahan ini adalah :
1. Perlunakan dan pematangan serviks.
2. Perkembangan gap junction diantara sel-sel miometrium
3. Peningkatan jumlah reseptor oksitosin pada miometrium.
4. Peningkatan reseptor kontraktif darimiometrium terhadap uterotonin.
Persalinan mulai saat benteng pemeliharaan kehamilan dilepaskan yang menyebabkan pembentukan uterotonin dan uterotropin. Diantara yang paling poten dari uterotonin ini adalah prostaglandin, oksitosin, angiotensin II, arginin vasopresin, dan bradikinin. Beberapa uterotonin ini diproduksi dalam jaringan intrauterin, seperti desidua uterus dan membran janin ekstraembrionik yang merupakan jaringan sangat potensial enzimatik untuk pembentukan PGE2 dan PGF2ά.
Tampak yang paling mungkin adalah bahwa persalinan diawali sebagai respon terhadap uterotonin dan uterotropin yang diproduksi dalam uterus, yaitu dalam jaringan uterus atau pada jaringan janin ekstraembrional. Sejumlah agen bioaktif, yang diproduksi dalam jaringan-jaringan ini, berkumpul didalam cairan amnion selama proses persalinan.
Pengaturan dan pembentukan gap junction merupakan subjek yang cukup penting. Bukti telah diperoleh, dengan penelitian in vitro dan in vivo pada binatang percobaan, bahwa progesteron menghambat dan estrogen meningkatkan pembentukan gap junction. Beberapa prostanoid seperti PGE2, PGF2ά dan tromboksan dan mungkin endoperoksida.
Merangsang pembentukan gap junction pada kehamilan cukup bulan gap junction meningkat pada setiap sel dan selama proses persalinan jumlah dan ukurannya semangkin meningkat. Gap junction menghilang pada 24 jam postpartum.
PGE2 dan PGF2ά adalah stimuli yang poten untuk kontraksi miometrium dan diyakini bekerja meningkatkan kontraksi miometrium dan diyakini bekerja meningkatkan konsentrasi Ca 2+ bebas intraselular, suatu proses yang menghasilkan aktiviotas myosin light chain kinase, fosforilasi miosin, dan kemudian interaksi miosin terfosforilasi dan aktin. PGE2 dan PGF2ά juga bekerja menginduksi perubahan-perubahan pada pematangfan serviks, yaitu aktivitas kolagenase-kolagenasa dan suatu perubahan konsentrasi glikosaminoglikan.
Untuk beberapa lama, kita sudah bergulat deangn tiga teori umum yaitu :
1. Hipotesis " progesteron withdrawal "
2. teori oksitosin.
3. postulat sistem komunikasi ibu-janin.
Sekarang bukti yang paling besar menentang bentuk progesteron withdrawal yang sudah dapat diketahui atau yang tersembunyi sebelum onset persalinan spontan manusia.
Tidak ada penurunan kadar atau kecepatan produksi progesteron dalam darah sebelum mulainya persalianan dan tidak ada bukti yang nyata untuk sekuestrasi khusus, penarikan produksi ekstraglandular, metabolisme unik, atau kegagalan kerja progesteron yang menandai saat mulainya persalinan manusia.
Demikian juga, sebagian fakta menentang peranan elementer oksitosin dalam inisiasi persalianan spontan. Oksitosin merupakan suatu uterotonin yang sangat poten yang penting dalam mempermudah kontraksi uterus pada stadium dua persalinan namun tidak terbukti mengininsiasi persalinan.
Sedangkan peran janin dalam inisiasi persalinan yaitu dalam penarikan agen pemeliharaan kehamilan melalui lengan plasenta sistem komunikasi janin-ibu. Sebagai jalur alternatif janin yaitu melalui paru-paru janin atau ginjal lewat sekresi atau eksresi yang memasuki cairan amnion ( lengan parakrin sistem komunikasi janin-ibu ).
FASE PERSALINAN1,2,3,4
Proses persalinan dibagi dalam tiga berdasarkan pertimbangan klinis :
Kala I : Dimulai sejak awal kontraksi dengan frekuensi,intensitas dan durasi yang cukup sehingga menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks.
Kala II : kala dua dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (+10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi
Kala III : Segera setelah kelahiran bayi dan berakhir dengan kelahiran plasenta dan selaput ketuban
Kala IV : Dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum.
AKADEMI KEBIDANAN SINAR KASIH TORAJA
Diposting oleh wawan sp di 23.58Bahwa seiring dengan Program Pemerintah di bidang kesehatan khususnya Program Indonesia Sehat 2010 maka tidak dapat di pungkiri bahwa peran bidan memiliki andil yang sangat besar dalam akselerasi penurunan angka kematian ibu dan anak sebagai salah satu tolak ukur peningkatan derajat kesehatn masyarakat.
TUJUAN
Menghasilkan lulusan kebidanan profesional yang memiliki kemempuan akademik yang handal dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara mandiri, profesional, bertanggung jawab dan berjiwa Pancasila.
DASAR
Penyelenggara Akademi Kebidanan Sinar Kasih Toraja berdasarkan :
- SK (Rek)Depkes RI No : HK .03.2.4.1.02301
- SK MENDIKNAS RI No : 115/D/O/2008
Kurikulum yang di pergunakan adalah kurikulum Nasional Diploma III kebidanan yang telah disepakati oleh Depkes RI danDiknas RI, yang terdiri dari Kurikulum Inti dengan jumlah SKS = 110 sks, dan Kurikulum Lokal 10 SKS. Proses perkuliahan di tempuh dalam 6 semester (3 tahun) denan gelar AM.Keb ( Ahli Madya Kebidanan )
PROGRAM DIPLOMA III (D3) KEBIDANAN
Diposting oleh wawan sp di 09.13 PENGELOLA AKBID SINAR KASIH TORAJA
Direktur : dr.Zadrak Tombe, Sp.A
Ka. TU : Edwinn Sallipadang, s.Ked,M.Kes
Pudir I : Lili Suriani, S.Sit
Pudir II : Mariani Sampe, SKM,M.Kes
Pudir III : Vega OktavarinBr.Moute, S.Sit
PENGURUS YAYASAN
KETUA : Erni Yetti R.,SKM,M.Kes
PENGAWAS : Daud Tangketasik, ST
BENDAHARA : Anton Harpa, SE.Ak
SEKRETARIS : Rita Riman
- Dokter Spesialis
- Dokter Umum
- Magister (S2) Kesehatan Masyarakat
- Sarjana Kesehatan Masyarakat
- D.IV Kebidanan
- Sarjana Pendidikan
FASILITAS YANG DIMILIKI
- Gedung Perkuliahan
- Perpustakaan
- Laboratorium
- Media Pembelajaran (OHP,LCDMulti Media)
- Asrama AKBID Sinar Kasih Toraja
- BUS AKBID Sinar Kasih untuk antar jemput.
LAHAN PRAKTEK
- Rumah Sakit (Tana Toraja, Makassar dan Jakarata)
- Puskesmas
- Rumah Bersalin
Akademi Kebidanan Sinar Kasih TORAJA
Diposting oleh wawan sp di 10.10Makale. Bupati Tana Toraja, J Amping Situru, meresmikan Akademi Kebidanan (Akbid) Sinar Kasih, Toraja. Acara peresmian ini dirangkaikan dengan syukuran berdirinya Akbid Sinar Kasih.
Merupakan satu prestasi bagi (Akbid) Sinar Kasih toraja, untuk tahun ajaran 2008/2009, telah tercatat sebanyak 200 mahasiswa yang sebagian berasal dari Kalimantan Timur, Papua, Sulawesi Tengah, dan Kendari (Sulawesi Tenggara). Sementara dosen sebanyak 25 orang termasuk istri bupati dan sejumlah dokter ahli.
Untuk sementara, mahasiswa Akbid Sinar Kasih kuliah di gedung Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 sambil menunggu pembangunan gedung kampus rampung.
Saat ini, fasilitas yang dimiliki antara lain, asrama, laboratorium kumputer, perpustakaan, dan kendaraan operasional sebanyak 20 unit.
Dalam sambutannya, Amping menyatakan kehadiran Akbid Sinar Kasih merupakan salah satu aset daerah yang harus dijaga dan dikembangkan untuk memenuhi tenaga medis khususnya bidan di masa mendatang.
"Di masa mendatang, tenaga kesehatan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan hadirnya Akbid Sinar Kasih ini kita harapkan dapat menelorkan bidan-bidan yang terampil dan berkualitas," kata Amping yang juga penesehat di Akbid Sinar Kasih.
15 MARET 09
Diposting oleh wawan sp di 09.25Studi praktek ini bertujuan guna menambah wawasan para mahasiswi kebidanan ini,...bersambung...